Apa itu Kanalisasi Sungai?

KANALISASI SUNGAI

Kanalisasi sungai merupakan salah satu bentuk rekayasa sumber daya air yang dilakukan untuk mengatur dan mengendalikan aliran sungai agar dapat dimanfaatkan secara lebih optimal. Kanalisasi umumnya diterapkan untuk mendukung transportasi sungai, pengendalian banjir, penyediaan air baku, irigasi, serta menjaga kestabilan muka air pada suatu sungai. Melalui pembangunan bendungan, pintu air, dan bangunan pengatur lainnya, kondisi sungai yang semula alami dapat diubah menjadi lebih terkendali sehingga mampu menunjang berbagai aktivitas manusia secara lebih efektif dan efisien.


Yang dimaksud kanalisasi sungai adalah suatu cara untuk mengubah pengaliran, yang tadinya sungai merupakan pengaliran bebas menjadi suatu deretan kolam-kolam air yang dibatasi oleh bendungan (dam) dan bangunan penerus (lock).

Maksud dari kanalisasi tersebut adalah untuk menaikkan permukaan air dengan cara menghambat atau memperlambat arus pengaliran dan/atau untuk menghindarkan pengaruh pasang-surut dari laut terhadap sungai. Kolam-kolam yang dibatasi oleh bendungan/bangunan penerus tersebut secara umum adalah tanpa arus yang berarti permukaan airnya adalah horizontal. Namun kebanyakan sungai mempunyai debit pengaliran yang berubah-ubah menurut musim ataupun karena adanya anak-anak/cabang sungai serta adanya penggunaan air sungai sebagai air untuk irigasi, untuk perikanan dan lain sebagainya sehingga dibutuhkan sebuah debit yang besar dan menjadikan kolam-kolam tersebut mempunyai arus.

Kecepatan arus maksimum yang diizinkan adalah sebesar 0,30 m/detik. Panjang kolam-kolam air tersebut ditentukan berdasarkan kelandaian (slope) sungai dan besar perbedaan ketinggian muka air di sebelah muka dan sebelah belakang bendung. Secara umum bendungan/bangunan penerus haruslah ditempatkan dengan jarak sejauh mungkin dengan syarat bahwa besar perbedaan ketinggian muka air tesebut secara teknis masih dapat dilaksanakan dan secara ekonomis masih efisien. Hal ini mengingat bahwa makin sedikit jumlah bendungan/bangunan penerus tersebut berarti makin sedikit hambatan pelayaran di sungai.


JALUR PELAYARAN KANAL

a. Dasar-dasar perencanaan

Dari sebuah kanal/sungai yang dipakai sebagai alur pelayaran, yang sering menjadi masalah adalah mengenai kondisi penampang melintang kanal/sungai tersebut. Untuk alasan ekonomis kita dapat membedakan penampang melintang jalur pelayaran terhadap intensitas lalu lintas kapal yang akan melaluinya, yaitu:

  1. Penampang melintang normal

Bila kepadatan lalu lintas > 15.000 kapal per tahun. Pada tipe ini dipersyaratkan bahwa dua buah kapal dengan muatan penuh dapat saling berlintasan dengan kecepatan normal dan sebuah kapal yang bermuatan penuh dapat saling mendahului sebuah kapal lain dengan perhatian penuh.

  1. Penampang melintang sempit

Bila kepadatan lalu lintas > 5.000 kapal per tahun. Pada tipe ini dipersyaratkan bahwa dua buah kapal yang bermuatan penuh dapat saling berlintasan namun dengan perhatian penuh, dan sebuah kapal kosong dapat mendahului sebuah kapal lain yang bermuatan penuh namun hati-hati.

  1. Penampang satu jalur

Bila jalur pelayaran tersebut pendek dan kepadatan lalu lintas tidak lebih dari 1000 kapal per tahun.

Persyaratan Penampang Melintang Jalur Pelayaran:

1). Jalur harus cukup dalam sehingga kapal dapat dikemudikan dengan baik, juga bagian bawah kapal tidak menyentuh dasar jalur pelayaran.

2). Alur harus cukup lebar agar supaya arus lalu lintas yang dipersyaratkan dapat melaluinya dengan aman pada kecepatan normal.

3). Kapal yang melayari alur harus dapat mencapai kecepatan yang beralasan sehingga dapat mempertahankan rendahnya biaya angkut.

4). Penampang melintang alur tidak harus sangat lebar sehingga menjadikannya tidak ekonomis.

Kedalaman alur pelayaran

Kedalaman alur pelayaran yang terbatas, membuat kecepatan kapal yang beroperasi padanya menjadi terbatas pula. Hal ini disebabkan oleh bertambahnya tahanan daya dorong, berkurangnya kemampuan manoever, yang akhirnya akan membatasi kapasitas jalur dan membuat naiknya biaya angkut. Perencanaan besar kedalaman jalur pelayaran kanal adalah dipengaruhi oleh:

1). Sarat air atau Draft kapal

Besar sarat air dari kapal rencana untuk sebuah jalur pelayaran kanal yang baru ditentukan berdasarkan proyeksi ekonomik atau ukuran kapal-kapal yang beroperasi pada jalur di sekitar jalur pelayaran yang direncanakan tersebut. Besar sarat air yang diambil adalah sarat air yang terbesar dari kapal-kapal yang sudah ada atau kapal-kapal rencana.

2). Squat

Squat adalah fenomena turunnya permukaan air akibat pergerakan kapal. Makin sempit alur pelayaran makin besar squat. Di USA besar penambahan akibat squat diambil sebesar satu kaki (Rule of Thumb).

3). Trim

Trim adalah fenomena di mana kapal berlayar dengan sarat air muka yang tidak sama besar dengan sarat air belakang. Di USA besar penambahan kedalaman air untuk memperhitungkan trim ini adalah sebesar satu kaki (Rule of Thumb).

4). Pergerakan kapal

Pergerakan kapal dapat terjadi dalam enam cara, yaitu tiga translasi dan tiga rotasi terhadap sumbu-sumbu orthogonal. Dua diantaranya yaitu “heave” dan “pitch” dapat berpengaruh terhadap kedalaman jalur pelayaran. Rule of Thumb memberikan kedalaman ekstra untuk memperhitungkan hal ini yaitu sebesar sepertiga dari tinggi gelombang yang menyebabkan pergerakan tersebut dan dengan panjang gelombang yang lebih kecil dari panjang kapal.

5). Pasang-surut

Kedalaman jalur pelayaran tidak selalu diperhitungkan terhadap keadaan surut maksimum. Pertimbangan dalam hal pasang-surut ini didasarkan pada pertimbangan ekonomis antara besar pengeluaran untuk penambahan kedalaman jalur dengan kondisi perdagangan yang terjadi akibat penambahan kedalaman atau dengan kata lain yaitu tergantung kepada besar persentase kapal yang diizinkan dapat melalui jalur pada saat surut maksimum (duration curve).

6). Densitas atau berat jenis air

Jalur pelayaran perairan daratan kadang-kadang dilayari oleh kapal laut. Densitas air sungai lebih kecil dari densitas air laut, sehingga kapal laut akan mempunyai sarat air yang lebih besar ketika berada di sungai.

7). Clearance

Yaitu besar jarak vertikal antara dasar alur pelayaran dengan dasar lambung kapal. Besar clearance minimum ditentukan berdasarkan pertimbangan keamanan dasar jalur akibat pergerakan kapal. Kondisi dasar saluran juga mempengaruhi dalam penentuan batas keamanan tersebut, di mana dasar saluran yang terdiri dari batuan akan lebih berbahaya terhadap lambung kapal dibandingkan dengan lumpur, sehingga besar clearance yang diambil untuk saluran dengan dasar batu akan lebih besar dibandingkan dengan dasar lumpur. Faktor lain yang harus diperhatikan dalam penentuan besar clearance adalah fenomena kecepatan batas dari suatu saluran dengan kedalaman terbatas.

Sebagai sarana transportasi perairan, kanal yang direncanakan dengan baik akan mampu meningkatkan keselamatan pelayaran, memperlancar arus distribusi barang dan penumpang, serta mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah yang dilayaninya. Oleh karena itu, perencanaan kanalisasi sungai dan jalur pelayaran kanal harus mempertimbangkan aspek hidrologi, teknis pelayaran, ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan secara terpadu.


Komentar